HUT RI #81

Edukasi Tata Kelola Wakaf, KUA Jatilawang Terima Konsultasi Kepala SMK Wijaya Kusuma

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Ada harta yang nilainya tidak berhenti pada angka. Ada tanah yang bukan sekadar hamparan bumi, tetapi dapat menjadi tempat tumbuhnya ilmu, lahirnya generasi, dan mengalirnya pahala bahkan ketika pemiliknya telah lama meninggalkan dunia. Di situlah wakaf menemukan kemuliaannya: ketika sesuatu yang dimiliki seseorang berubah menjadi manfaat yang terus hidup bagi orang lain. Kamis (13/08)

Semangat tersebut tergambar dalam pelayanan Iskandar Zulkarnain, Kepala KUA Jatilawang, bersama Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama Islam, saat menerima konsultasi wakaf dari Bapak Masturi, Kepala SMK Wijaya Kusuma Jatilawang. Konsultasi berlangsung dalam suasana komunikatif dan penuh kekeluargaan, sebagai bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai wakaf dan pengelolaannya sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam konsultasi tersebut, Iskandar Zulkarnain dan Rais Rudiansyah memberikan penjelasan serta pendampingan sesuai kapasitas dan tugas pelayanan KUA. Pembahasan wakaf diarahkan agar masyarakat memahami bahwa wakaf bukan semata-mata persoalan menyerahkan atau mengelola aset, tetapi juga menyangkut amanah, keberlanjutan manfaat, kepastian administrasi, serta tanggung jawab moral untuk menjaga harta yang telah diperuntukkan bagi kepentingan umat.

Bagi lembaga pendidikan, persoalan wakaf memiliki makna yang sangat dalam. Tanah, bangunan, atau aset yang dikelola untuk kepentingan pendidikan dapat menjadi tempat ribuan langkah anak-anak menuju masa depan. Di dalam ruang kelas, mungkin ada seorang siswa yang kelak menjadi guru; ada yang menjadi tenaga kesehatan; ada yang mengabdi kepada masyarakat; bahkan mungkin ada yang suatu hari menjadi orang yang kembali mewakafkan hartanya untuk generasi berikutnya.

Satu wakaf dapat melahirkan begitu banyak kebaikan yang tidak pernah kita ketahui ujungnya.

Karena itu, konsultasi yang diterima Bapak Masturi tidak sekadar membahas persoalan administrasi. Ada cita-cita besar yang berada di baliknya: bagaimana sebuah amanah dapat dikelola dengan benar sehingga manfaatnya terus dirasakan oleh masyarakat dan generasi mendatang.

Iskandar Zulkarnain dan Rais Rudiansyah memberikan pelayanan dengan pendekatan yang ramah, terbuka, dan mudah dipahami. Setiap pertanyaan menjadi ruang untuk membangun pemahaman, sedangkan setiap penjelasan diharapkan mampu memberikan ketenangan bagi masyarakat dalam mengambil langkah yang tepat terkait wakaf.

Sebab tidak semua orang yang datang berkonsultasi membawa persoalan sederhana. Ada yang membawa amanah keluarga, ada yang membawa kepentingan lembaga, dan ada pula yang sedang berusaha memastikan agar sesuatu yang diniatkan sebagai ibadah benar-benar dapat dikelola sesuai aturan.

Di situlah pelayanan keagamaan menemukan wajah kemanusiaannya: bukan sekadar memberikan jawaban, tetapi membantu seseorang menemukan jalan yang lebih terang untuk menunaikan amanah.

Wakaf sendiri mengajarkan sebuah pelajaran yang begitu indah tentang kehidupan. Manusia memiliki sesuatu untuk sementara, tetapi manfaat yang ditinggalkannya dapat hidup jauh lebih lama. Harta yang hari ini berada di tangan seseorang dapat berubah menjadi tempat belajar, tempat beribadah, sarana sosial, atau berbagai bentuk kemanfaatan yang terus dirasakan orang lain.

Pada akhirnya, manusia akan pergi. Rumah akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Harta akan berpindah tangan. Namun, kebaikan yang ditanam dengan ikhlas dapat terus tumbuh bahkan ketika tangan yang menanamnya sudah tidak lagi berada di dunia.

Karena itu, konsultasi wakaf di KUA Jatilawang menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa membangun masa depan tidak selalu harus dengan sesuatu yang besar. Kadang, sebuah niat baik yang dikelola dengan benar dapat menjadi mata air kebaikan bagi banyak orang.

Semoga ikhtiar Iskandar Zulkarnain dan Rais Rudiansyah dalam memberikan pelayanan dan edukasi wakaf semakin mendekatkan masyarakat kepada pemahaman yang benar tentang pentingnya wakaf. Semoga pula niat baik Bapak Masturi dalam berkonsultasi menjadi jalan menuju kemanfaatan yang luas bagi dunia pendidikan dan masyarakat.

Sebab ketika seseorang mewakafkan sesuatu, ia sesungguhnya sedang berkata kepada masa depan: “Aku mungkin tidak akan berada di sana, tetapi semoga kebaikanku tetap sampai kepada kalian.”

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk cinta manusia yang paling sunyi sekaligus paling indah—memberikan sesuatu yang dimiliki hari ini, agar orang-orang yang bahkan belum kita kenal dapat merasakan manfaatnya di kemudian hari.

Wakaf adalah jejak yang tidak harus ditulis dengan nama besar. Cukup dengan keikhlasan, ketepatan amanah, dan manfaat yang terus mengalir.

Karena boleh jadi, ketika usia kita telah selesai dan nama kita perlahan dilupakan zaman, ada seorang anak yang masih belajar di atas tanah wakaf yang pernah kita perjuangkan. Ada doa yang terucap dari bibirnya. Dan doa itulah yang kelak menjadi saksi bahwa kebaikan kita pernah hidup—jauh setelah kita meninggalkan dunia.