Cinta yang Halal Selalu Lahir dari Keikhlasan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di bawah langit yang teduh dan waktu yang seolah berjalan lebih khidmat dari biasanya, suasana haru menyelimuti Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Pada hari yang penuh berkah itu, sebuah peristiwa sakral kembali terpatri dalam lembar kehidupan dua insan yang dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. (Rabu, 4/1)
Penghulu KUA Jatilawang, Iskandar Zulkarnain, dengan penuh ketenangan dan kewibawaan, memimpin langsung prosesi pencatatan nikah sekaligus ijab qabul pasangan Imam Atrori dan Nidaul Janah, calon pengantin yang berasal dari Desa Kedungwringin. Dalam balutan kesederhanaan yang sarat makna, akad tersebut berlangsung khidmat, menyentuh relung hati siapa pun yang menyaksikannya.
Dengan satu tarikan napas yang dalam, Imam Atrori mengucapkan ijab qabul dengan lantang dan tegas. Suaranya bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena besarnya tanggung jawab yang kini dipikulnya. Dalam sekejap, kalimat suci itu mengubah dua perjalanan hidup menjadi satu arah tujuan. Air mata haru pun tak terbendung—jatuh perlahan, menjadi saksi bahwa cinta yang halal selalu lahir dari keikhlasan.
Iskandar Zulkarnain dalam sambutannya menyampaikan bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan lahiriah, melainkan janji batin yang disaksikan oleh Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa rumah tangga adalah tempat berlabuhnya harapan, tempat berteduh dari segala lelah dunia, dan tempat di mana kesabaran serta cinta diuji sepanjang waktu.
“Pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam kehidupan. Ia membutuhkan kesetiaan, pengorbanan, dan keikhlasan yang terus diperbarui setiap hari,” tuturnya dengan suara yang menenangkan, namun penuh makna mendalam.
Prosesi yang berlangsung di KUA Jatilawang itu tidak hanya menjadi seremoni administratif, melainkan juga momentum spiritual yang menggetarkan jiwa. Kedua mempelai tampak saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca—seolah menyadari bahwa mereka kini bukan lagi dua insan yang berjalan sendiri, melainkan satu hati yang harus saling menjaga hingga akhir hayat.
Dari balik kesederhanaan ruangan, terpancar kemegahan cinta yang tidak bisa diukur dengan apapun. Tak ada kemewahan yang berlebihan, namun justru di situlah letak keindahannya—cinta yang lahir dari ketulusan, dipersatukan dalam ridha Ilahi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan, masih ada momen-momen suci yang mampu mengetuk hati, mengajarkan arti kesetiaan, dan menyadarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari gemerlap dunia, melainkan dari hati yang saling menerima dalam ikatan yang halal dan penuh keberkahan.
Dan di hari itu, di KUA Jatilawang, sejarah kecil penuh cinta kembali dituliskan—tentang dua nama, Imam Atrori dan Nidaul Janah, yang kini telah menjadi satu dalam janji suci, menuju kehidupan yang semoga senantiasa diliputi rahmat, mawaddah, dan kasih sayang tanpa batas.
