Buka Lembaran Baru Kehidupan Dengan Kebahagiaan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di sebuah rumah di Desa Tunjung, Kecamatan Jatilawang, sebuah perjalanan hidup menemukan titik awal yang baru. Dengan suasana penuh khidmat dan kesederhanaan, Iskandar Zulkarnain, Penghulu KUA Jatilawang, melaksanakan pencatatan nikah dan prosesi ijab qabul bagi pasangan pengantin di Desa Tunjung. Senin (24/08)
Prosesi berlangsung dalam suasana sakral dan penuh haru. Kalimat ijab qabul yang terucap bukan sekadar rangkaian kata yang didengar oleh para saksi, melainkan sebuah ikrar yang mengubah status dua insan menjadi pasangan suami istri, sekaligus membuka lembaran baru kehidupan yang akan mereka jalani bersama.
Di hadapan penghulu, wali, saksi, keluarga, dan orang-orang terkasih, sebuah janji diucapkan dengan penuh kesungguhan. Janji untuk menerima pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, berjalan bersama dalam suka maupun duka, serta membangun rumah tangga yang dilandasi keimanan, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Pernikahan sering kali terlihat indah dalam balutan pakaian terbaik dan senyum kebahagiaan. Namun di balik hari bahagia itu, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Ada doa orang tua yang diam-diam dipanjatkan bertahun-tahun, ada air mata yang pernah jatuh, ada perjuangan yang mungkin tidak pernah diketahui banyak orang, hingga akhirnya dua hati dipertemukan dalam sebuah akad yang suci.
Bagi Iskandar Zulkarnain, melaksanakan pencatatan nikah dan ijab qabul bukan sekadar menjalankan tugas kedinasan. Di setiap akad, terdapat amanah untuk memastikan seluruh rangkaian pernikahan berlangsung sesuai ketentuan, sekaligus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang sedang memasuki salah satu fase terpenting dalam kehidupan mereka.
Pencatatan pernikahan menjadi bagian penting dalam memberikan kepastian hukum bagi pasangan suami istri. Di balik proses administrasi yang tampak sederhana, terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan hak-hak pasangan dan keluarga terlindungi serta tercatat secara resmi.
Sementara itu, ijab qabul menjadi detik yang tidak akan pernah benar-benar biasa. Dalam beberapa kalimat yang singkat, seorang laki-laki menerima amanah besar untuk menjadi suami. Seorang perempuan menyerahkan sebagian perjalanan hidupnya kepada seseorang yang dipilihnya. Dan orang tua menyaksikan anak yang dahulu mereka gendong, kini tumbuh menjadi manusia dewasa yang memulai rumah tangganya sendiri.
Ketika ijab qabul dinyatakan sah, mungkin hanya terdengar kata “sah” dari para saksi. Namun di balik kata singkat itu, sesungguhnya ada dunia yang berubah. Dua manusia kini memiliki tanggung jawab baru; dua keluarga dipertautkan; dan sebuah rumah tangga mulai ditulis dengan tinta doa.
Pernikahan juga mengajarkan bahwa mencintai bukan sekadar menemukan seseorang yang sempurna. Mencintai adalah kesediaan untuk bertahan ketika keadaan tidak sempurna. Ada hari-hari ketika senyum mudah diberikan, tetapi akan ada pula hari ketika kesabaran diuji. Di situlah janji pernikahan menemukan makna terdalamnya.
Melalui pelayanan pencatatan nikah dan ijab qabul, KUA Jatilawang terus hadir di tengah masyarakat untuk memastikan setiap pasangan mendapatkan pelayanan yang profesional, tertib, dan sesuai ketentuan. Kehadiran penghulu menjadi bagian dari ikhtiar negara dalam memberikan pelayanan keagamaan sekaligus perlindungan administratif bagi masyarakat.
Bagi keluarga pengantin di Desa Tunjung, hari itu akan menjadi salah satu halaman yang selalu dikenang. Kelak, ketika rambut mulai memutih dan usia semakin senja, mungkin mereka akan kembali mengingat hari ketika dua hati diikat dalam satu janji. Hari ketika keluarga berkumpul, doa dipanjatkan, dan sebuah kehidupan baru dimulai.
Semoga akad yang telah diucapkan menjadi mitsaqan ghalizha, perjanjian yang kokoh, yang senantiasa dijaga dalam setiap musim kehidupan. Semoga rumah tangga yang dibangun menjadi tempat pulang yang menenteramkan, tempat cinta bertumbuh, tempat kesabaran bersemi, dan tempat lahirnya generasi yang saleh serta bermanfaat bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, pernikahan bukan tentang seberapa megah sebuah pesta, melainkan seberapa kuat dua hati menjaga janji setelah semua tamu pulang. Bukan tentang indahnya hari ketika akad dilangsungkan, tetapi tentang kesetiaan merawat cinta hingga rambut memutih dan langkah semakin perlahan.
Di Desa Tunjung, sebuah akad telah terucap. Sebuah keluarga baru telah dimulai. Dan di balik tugas sederhana seorang penghulu, tersimpan doa yang begitu besar: semoga setiap pasangan yang dilayani menemukan sakinah dalam rumahnya, mawaddah dalam cintanya, dan rahmah dalam seluruh perjalanan hidupnya.
