HUT RI #81

BRUS SMK Maarif NU 1 Cilongok : Kenali Potensi, Pahami Kekurangan dan kelebihan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Masa remaja adalah masa ketika seseorang sedang belajar mengenal dunia sekaligus mencari jawaban tentang dirinya sendiri. Di tengah perjalanan itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) kepada para pelajar SMK Ma’arif NU 1 Cilongok dengan materi “Pengenalan Diri”. Senin (24/08)

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk berhenti sejenak dari rutinitas pembelajaran dan melihat lebih dalam ke dalam dirinya. Melalui materi yang disampaikan, Muhammad Taubah mengajak para remaja memahami siapa diri mereka, mengenali potensi, memahami kekurangan, serta menyadari bahwa setiap manusia memiliki jalan kehidupan yang berbeda.

Pengenalan diri menjadi hal penting dalam fase remaja. Sebab seseorang yang belum mengenal dirinya akan mudah kehilangan arah ketika berhadapan dengan pengaruh lingkungan, tekanan pergaulan, maupun berbagai pilihan yang hadir di hadapannya. Sebaliknya, remaja yang memahami dirinya akan lebih mampu menentukan langkah dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

Muhammad Taubah mengajak para siswa untuk tidak sibuk membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Setiap anak memiliki kelebihan yang berbeda. Ada yang unggul dalam bidang akademik, ada yang memiliki keterampilan, ada yang pandai berkomunikasi, ada yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama, dan ada pula yang mungkin belum menemukan potensi terbaik dalam dirinya.

Tidak semua bunga mekar pada waktu yang sama. Ada bunga yang mekar di awal musim, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Demikian pula manusia. Tidak perlu merasa rendah diri hanya karena perjalanan seseorang tampak lebih cepat daripada perjalanan kita.

Pesan tersebut menjadi penting bagi remaja yang terkadang menilai dirinya berdasarkan apa yang dimiliki orang lain. Media sosial, lingkungan pertemanan, dan berbagai tuntutan kehidupan dapat membuat seseorang merasa dirinya tidak cukup baik. Padahal, setiap manusia memiliki nilai yang tidak dapat diukur hanya dari penampilan, prestasi, popularitas, maupun jumlah pengikut.

Dalam bimbingan tersebut, para pelajar juga diarahkan untuk belajar menerima diri tanpa berhenti memperbaiki diri. Mengenali kekurangan bukan alasan untuk menyerah, tetapi menjadi pintu untuk bertumbuh. Sementara mengenali kelebihan bukan alasan untuk sombong, melainkan kesempatan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Muhammad Taubah juga menanamkan pentingnya membangun hubungan yang baik dengan Allah, orang tua, guru, dan lingkungan. Pengenalan diri yang sehat tidak hanya membuat seorang remaja mengetahui siapa dirinya, tetapi juga memahami untuk apa ia hidup dan ke mana arah kehidupannya hendak dibawa.

Ada anak yang mungkin datang ke sekolah dengan senyum, tetapi menyimpan persoalan yang tidak pernah diceritakan. Ada yang terlihat ceria, tetapi diam-diam merasa tidak berharga. Ada pula yang sedang berjuang menemukan dirinya di tengah dunia yang terlalu cepat memberikan penilaian.

Karena itu, BRUS bukan sekadar kegiatan penyampaian materi. Ia menjadi ruang untuk mengatakan kepada para remaja bahwa mereka berharga. Bahwa kegagalan hari ini bukan akhir dari kehidupan. Bahwa kesalahan dapat menjadi guru. Dan bahwa masa depan masih terbentang luas bagi siapa pun yang mau belajar, berusaha, dan memperbaiki diri.

Para pelajar diajak memahami bahwa masa muda bukan sekadar masa untuk mencari kesenangan, tetapi juga masa untuk menanam benih kehidupan. Apa yang ditanam hari ini—kebiasaan, pergaulan, ilmu, karakter, dan ibadah—akan menjadi bagian dari kehidupan mereka di masa mendatang.

Pengenalan diri juga menjadi bekal penting dalam mempersiapkan masa depan, termasuk dalam membangun keluarga. Sebelum seseorang belajar mencintai orang lain, ia perlu belajar memahami dirinya sendiri. Sebab seseorang yang mampu mengenali emosi, memahami tanggung jawab, dan mengendalikan diri akan lebih siap membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.

Di hadapan para pelajar, pesan itu terasa sederhana, tetapi memiliki makna yang panjang: jangan terburu-buru menjadi orang lain hanya karena dunia belum melihat keindahan yang ada dalam dirimu.

Kelak, mungkin sebagian siswa akan menjadi guru, pengusaha, pegawai, teknisi, tenaga profesional, tokoh masyarakat, atau menempuh jalan kehidupan yang sama sekali belum mereka bayangkan hari ini. Namun apa pun profesinya, mereka akan tetap membawa satu hal yang paling penting—karakter dan jati diri.

Semoga BRUS yang disampaikan Muhammad Taubah menjadi bekal yang tumbuh perlahan dalam hati para pelajar SMK Ma’arif NU 1 Cilongok. Semoga mereka mampu mengenali dirinya, mencintai proses pertumbuhannya, menghormati orang tua dan guru, menjaga pergaulan, serta berani menata masa depan dengan penuh tanggung jawab.

Sebab setiap anak pada hakikatnya adalah sebuah cerita yang belum selesai ditulis. Jangan biarkan orang lain menuliskan akhir ceritamu. Kenalilah dirimu, temukan potensimu, perbaiki kekuranganmu, dan tulislah masa depanmu dengan ilmu, akhlak, doa, serta keberanian.

Dan suatu hari nanti, ketika mereka telah dewasa dan menoleh kembali kepada masa sekolah, semoga mereka dapat tersenyum sambil berkata: “Di masa itulah aku belajar mengenal diriku. Dan sejak saat itu, aku mulai belajar menjadi manusia yang lebih baik.”