HUT RI #81

Belajar Bersabar dalam Rumah Tangga

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan sekadar tentang dua hati yang dipertemukan dalam cinta. Ia adalah perjalanan panjang yang kelak mempertemukan dua karakter, dua kebiasaan, dua keluarga, dan dua cara memandang kehidupan. Karena itu, sebelum melangkah menuju kehidupan rumah tangga, Dwi Astuti, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Aqsal Madin Ramadhani dan Riska Amelia, dengan mengangkat tema penting: “Kesabaran dalam Berumah Tangga.” Jumat (14/08)

Dalam suasana bimbingan yang hangat dan komunikatif, Dwi Astuti mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan seperti yang direncanakan. Akan ada hari ketika senyum terasa mudah diberikan, tetapi ada pula hari ketika masalah datang bertubi-tubi. Pada saat seperti itulah kesabaran bukan sekadar pilihan, melainkan kekuatan yang menjaga rumah tangga agar tidak mudah runtuh.

Dwi Astuti menekankan bahwa sabar dalam rumah tangga bukan berarti memendam semua persoalan atau membiarkan kesalahan terus berulang. Kesabaran adalah kemampuan untuk menahan emosi, mengendalikan ucapan, memilih jalan musyawarah, dan memberikan kesempatan kepada pasangan untuk memperbaiki diri. Sebab terkadang, satu kalimat yang diucapkan dalam kemarahan dapat meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada masalah yang sedang diperdebatkan.

Menurutnya, pasangan suami istri perlu belajar bahwa kehidupan rumah tangga bukan arena untuk mencari siapa yang paling benar. Rumah adalah tempat untuk saling menguatkan ketika salah satu sedang lemah, menjadi tempat pulang ketika dunia terasa melelahkan, serta menjadi ruang pertama untuk saling memaafkan.

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menahan amarah dan memberi maaf merupakan kemuliaan yang tidak selalu mudah dilakukan. Dalam rumah tangga, kesabaran sering kali diuji bukan oleh persoalan besar, melainkan oleh hal-hal kecil yang berulang: cara berbicara, kebiasaan pasangan, perbedaan pendapat, persoalan ekonomi, hingga kelelahan setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

Dwi Astuti juga mengajak Aqsal dan Riska untuk membangun kebiasaan saling mendengarkan. Sebab sering kali pasangan tidak membutuhkan jawaban yang panjang, tetapi hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar tanpa menghakimi. Dari mendengar lahir pengertian; dari pengertian tumbuh kasih sayang; dan dari kasih sayang, rumah tangga menemukan alasan untuk terus bertahan.

“Jangan berharap pasangan selalu sempurna,” pesan Dwi Astuti dalam bimbingannya. “Sebab kita pun datang ke dalam pernikahan bukan sebagai manusia yang sempurna. Pernikahan adalah tempat dua manusia belajar menyempurnakan diri bersama-sama.”

Nasihat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab di balik setiap pasangan yang mampu bertahan puluhan tahun, ada begitu banyak pertengkaran yang telah mereka pilih untuk akhiri dengan perdamaian, ada banyak kecewa yang mereka ubah menjadi doa, dan ada begitu banyak kesempatan untuk pergi yang justru mereka jawab dengan memilih tetap tinggal.

Aqsal dan Riska pun diingatkan bahwa kehidupan setelah akad bukanlah akhir dari kisah cinta, melainkan awal dari perjuangan yang sesungguhnya. Setelah pesta selesai dan para tamu pulang, kehidupan akan kembali pada rutinitas. Di sanalah kesetiaan diuji—bukan ketika semuanya indah, tetapi ketika kehidupan sedang tidak ramah.

Pada akhirnya, kesabaran adalah bahasa cinta yang paling sunyi. Ia tidak selalu terdengar dalam kata-kata, tetapi terasa dalam kesediaan untuk tetap menggenggam tangan pasangan ketika langkahnya sedang lemah. Ia hadir dalam doa yang diam-diam dipanjatkan, dalam maaf yang diberikan sebelum diminta, dan dalam keputusan untuk memperbaiki hubungan daripada mempertahankan ego.

Semoga bekal Bimbingan Perkawinan yang diberikan Dwi Astuti menjadi cahaya bagi Aqsal Madin Ramadhani dan Riska Amelia dalam menapaki kehidupan baru. Semoga keduanya mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, rumah yang di dalamnya ada ketenangan, cinta yang tumbuh dalam kesetiaan, dan kasih sayang yang tetap hidup bahkan ketika usia perlahan menua.

Sebab kelak, ketika rambut telah memutih dan wajah tak lagi semuda hari ini, yang paling berharga bukanlah seberapa sempurna perjalanan mereka, melainkan seberapa sering keduanya memilih untuk berkata:

“Aku tetap di sini. Mari kita jalani semuanya bersama.”

Dan semoga kesabaran yang mereka tanam sejak awal pernikahan kelak tumbuh menjadi pohon keteduhan—tempat mereka berteduh di dunia, sekaligus menjadi jalan menuju ridha Allah SWT.