Apel Penghormatan Bendera Satukan Langkah Pengabdian KUA Jatilawang
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di bawah langit pagi yang masih berselimut embun, halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang menjadi saksi sebuah momen yang sederhana namun sarat makna. Barisan rapi para Penyuluh Agama, Penghulu, dan seluruh staf KUA Jatilawang berdiri tegak, menghadap Sang Merah Putih yang perlahan berkibar, seolah menyapa jiwa-jiwa yang setia mengabdi. Senin (13/04)
Apel pagi penghormatan bendera tersebut dipimpin langsung oleh Kepala KUA Jatilawang, Iskandar Zulkarnain. Dengan langkah mantap dan wajah yang memancarkan keteduhan, beliau mengajak seluruh peserta apel untuk sejenak menundukkan hati, mengingat betapa besar amanah yang mereka emban—bukan sekadar sebagai aparatur negara, tetapi sebagai pelayan umat yang menjaga nilai-nilai suci dalam kehidupan beragama.
Suasana hening menyelimuti saat lagu kebangsaan dikumandangkan. Setiap baitnya mengalun, menembus relung hati, mengingatkan bahwa pengabdian bukan hanya tentang tugas, tetapi tentang cinta yang tulus kepada bangsa dan sesama. Beberapa pasang mata tampak berkaca-kaca, larut dalam keharuan yang tak terucapkan.
Dalam amanatnya, Iskandar Zulkarnain menyampaikan pesan yang menggugah nurani. Ia mengingatkan pentingnya menjaga integritas, memperkuat kebersamaan, dan menghadirkan pelayanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga penuh keikhlasan. “Kita bukan hanya bekerja dengan tangan, tetapi dengan hati. Di setiap langkah kita, ada harapan masyarakat yang harus kita jaga dengan penuh tanggung jawab,” tuturnya dengan suara yang tenang namun menggetarkan.
Apel pagi ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Ia menjelma menjadi ruang refleksi, tempat setiap individu meneguhkan kembali niat dan komitmen. Dalam kebersamaan itu, terasa hangatnya persaudaraan—sebuah ikatan yang tak hanya dibangun oleh tugas, tetapi oleh kesamaan tujuan untuk menebar kebaikan.
Ketika upacara usai, langkah-langkah kembali bergerak menuju aktivitas masing-masing. Namun pagi itu telah meninggalkan jejak yang dalam. Sebuah pengingat bahwa di balik kesibukan dan tanggung jawab, ada panggilan jiwa untuk terus setia mengabdi, dengan hati yang jernih dan niat yang suci.
Di halaman sederhana itu, di antara kibaran bendera dan doa yang diam-diam terucap, tersimpan harapan besar: agar setiap langkah pengabdian menjadi cahaya, menerangi jalan umat dan bangsa menuju kehidupan yang lebih bermakna.
