HUT RI #81

Adab Bertetangga, Jaga Harmoni dan Tanam Cahaya Kebaikan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Kehidupan bermasyarakat tidak pernah berdiri di atas kekuatan seseorang semata. Ia tumbuh dari kepedulian, saling menghormati, dan kesediaan untuk hadir ketika orang lain membutuhkan. Pesan itulah yang disampaikan Ahmad Muttaqin, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Penyuluhan kepada jamaah Majelis Taklim Al Irsyad dengan tema Adab Bertetangga. Senin (24/08)

Dalam penyuluhannya, Ahmad Muttaqin mengingatkan bahwa tetangga merupakan orang terdekat yang sering kali menjadi saksi perjalanan hidup seseorang. Mereka mengetahui ketika sebuah rumah sedang berbahagia, sekaligus menjadi orang yang mungkin pertama kali mengetuk pintu ketika kesedihan datang. Karena itu, menjaga hubungan baik dengan tetangga bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati tetangga, menjaga lisan, tidak mengganggu kenyamanan, serta ringan tangan dalam membantu. Kebaikan kepada tetangga tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar. Terkadang, sapaan yang tulus, senyum yang sederhana, atau kesediaan mendengarkan keluh kesah sudah cukup menjadi embun yang menyejukkan hati.

Ahmad Muttaqin juga mengajak jamaah untuk berhati-hati terhadap perkara yang sering dianggap kecil, tetapi dapat melukai perasaan orang lain. Perkataan yang kasar, suara yang mengganggu, membicarakan aib tetangga, iri terhadap kebahagiaannya, atau tidak peduli ketika mereka tertimpa musibah dapat perlahan meruntuhkan persaudaraan.

Dalam suasana penyuluhan yang hangat, jamaah diajak memahami bahwa rumah yang baik bukan hanya rumah yang memiliki pagar kokoh, tetapi rumah yang di sekelilingnya tumbuh rasa aman dan kasih sayang. Sebab, kehidupan akan terasa jauh lebih indah ketika seseorang tidak hanya memikirkan bagaimana dirinya bahagia, tetapi juga berusaha agar tetangganya tidak merasa terluka.

Lebih jauh, Ahmad Muttaqin menegaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap hak tetangga. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ? bersabda bahwa Jibril terus-menerus berwasiat kepada beliau agar berbuat baik kepada tetangga, hingga beliau menyangka tetangga akan mendapatkan hak waris. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kedudukan tetangga dalam Islam begitu mulia dan tidak boleh diremehkan.

Bimbingan itu kemudian mengantarkan jamaah pada sebuah renungan sederhana: barangkali di antara pintu-pintu rumah yang berdekatan, ada hati-hati yang sebenarnya sedang membutuhkan uluran tangan. Ada tetangga yang tersenyum, tetapi menyimpan kesedihan. Ada yang terlihat kuat, tetapi diam-diam menunggu seseorang bertanya, “Apa yang bisa saya bantu?”

Karena itu, Ahmad Muttaqin mengajak seluruh jamaah Majelis Taklim Al Irsyad untuk menjadikan lingkungan tempat tinggal sebagai ruang menanam kebaikan. Menjaga ucapan, menghormati perbedaan, membantu ketika ada kesulitan, menjenguk ketika sakit, berbagi ketika memiliki kelebihan, serta saling mendoakan menjadi bentuk nyata dari adab bertetangga.

Pada akhirnya, kehidupan bertetangga bukan tentang siapa yang memiliki rumah paling megah, pagar paling tinggi, atau harta paling banyak. Ia tentang siapa yang mampu membuat orang di sekelilingnya merasa aman, dihargai, dan tidak sendirian. Sebab ketika kelak pintu-pintu rumah tertutup dan manusia kembali kepada Sang Pencipta, mungkin bukan banyaknya harta yang dikenang, melainkan kebaikan kecil yang pernah membuat hati orang lain merasa bahagia.

Dari Majelis Taklim Al Irsyad, pesan tentang adab bertetangga kembali menggema: jangan biarkan rumah kita terang sendiri, sementara rumah di sebelahnya gelap dalam kesunyian. Jadilah tetangga yang kehadirannya dirindukan, bukan keberadaannya dihindari; menjadi tangan yang menolong, bukan lisan yang melukai. Sebab kebaikan yang kita tanam di halaman kehidupan orang lain, boleh jadi kelak menjadi cahaya yang menerangi perjalanan kita menuju keabadian.